Minggu, 16 Oktober 2016

MENINGKATNYA GARIS KEMISKINAN DI YOGYAKARTA

MENINGKATNYA GARIS KEMISKINAN DI YOGYAKARTA
Kemiskinan masih menjadi persoalan pelik bagi Indonesia meski hal yang sama terjadi di hampir semua negara berkembang di dunia. Berbagai program dan kebijakan yang telah dilakukan belum mampu mengatasi masalah kemiskinan di negeri ini. Yogyakarta, di balik pesonanya yang luar biasa diam-diam menyimpan masalah kependudukan yang parah yaitu tingkat kemiskinan yang terus saja meningkat.
Garis kemiskinan di Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami kenaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) Yogyakarta merilis garis kemiskinan bulan Maret 2015 hingga Maret 2016 mengalami kenaikan sekitar 5,42%. Bulan Maret 2015 lalu, garis kemiskinan Yogyakarta sebesar Rp335.886 per kapita per bulan, namun bulan Maret 2016 naik menjadi Rp354.084 per kapita per bulan.
Naiknya jumlah penduduk miskin di Yogyakarta dihitung satu semester atau dari September 2015 ke Maret 2016. Jumlah penduduk miskin di Yogyakarta pada Maret 2016 sebanyak 494.940 ribu atau naik 9.380 dibanding September 2015 sebanyak 45.560 orang. Sedangkan, pada Maret 2015 jumlah penduduk miskin sebanyak 550.230 orang. Bila dibandingkan dengan Maret 2016, jumlah penduduk miskin turun sebanyak 55.290 orang.
Meningkatnya garis kemiskinan di Yogyakarta ini disebabkan karena inflasi yang tidak stabil. Inflasi pada Maret 2015 ke Maret 2016 sebesar 3,69 persen dan inflasi pada September 2015 ke Maret 2016 sebesar 1,56 persen. Selain karena inflasi yang tidak stabil tingginya kemiskinan di Yogyakarta ini pun diduga kuat akibat dari lesatan pertumbuhan sektor perekonomian yang cenderung padat modal dan dikuasai investor tertentu. Sektor ekonomi yang memiliki peranan terbesar dalam perekonomian Yogyakarta adalah hotel, restoran dan perdagangan yang terkait yakni sebesar 20,75%. Sementara sektor yang diharapkan mampu menyerap banyak tenaga kerja seperti industri pengolahan danpertanian masing-masing hanya 14,45 dan 12,99%. Data ini seakan tegas berbicara di balik megahnya pesona Yogyakarta tersimpan derita penduduknya yang diam-diam sangat mengkhawatirkan.
Untuk menekan angka kemiskinan di Yogyakarta, Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) kembali menggandeng perusahaan – perusahaan untuk ikut serta mendukung program penanggulangan kemiskinan. Nantinya perusahaan-perusahaan tersebut akan ikut membantu melalui program corporate social responsibility atau CSR. Ada beberapa program dalam upaya pengetasan kemiskinan. Seperti perbaikan infastruktur, penyediaan permodalan dan juga pengembangan kapasitas sumber daya manusia dengan menelusuri beberapa daerah yang memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi. Daerah-daerah tersebut akan menerima bantuan program yang berbeda-beda dan disesuaikan dengan kondisi yang ada di masing-masing wilayah.
  
Referensi :

NB : Esaay ini adalah latihan menulis saya, mohon maaf apabila ada salah satu pihak yang tersinggungdan kurangnya sumber yang saya cantumkan. Kritik dan saran senantiasa saya nantikan agar saya dapat menulis essay yang lebih baik.